FOMO atau JOMO? Memilih Tenang di Tengah Ramainya Dunia
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Swt. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan kita semua yang berusaha mengikuti sunnah beliau.
Sahabat yang dirahmati Allah,
Pernahkah kita membuka media sosial hanya sebentar, tetapi akhirnya merasa ada yang kurang dengan hidup kita?
Melihat teman sedang liburan, membeli barang baru, mengikuti kegiatan yang seru, atau meraih prestasi. Lalu muncul pertanyaan dalam hati, "Kok aku tidak ikut, ya?" atau "Jangan-jangan aku ketinggalan."
Perasaan seperti itu sekarang dikenal dengan istilah FOMO, Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal.
Sebenarnya, itu adalah perasaan yang sangat manusiawi. Namun, jika tidak dikelola, FOMO bisa membuat kita lelah. Kita terus mengejar apa yang dilakukan orang lain, sampai lupa bertanya, "Apakah ini benar-benar aku butuhkan?"
Allah Swt. mengingatkan kita dalam Al-Qur'an:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawaban." (QS. Al-Isra': 36)
Ayat ini mengajak kita untuk tidak sekadar ikut-ikutan. Sebelum mengikuti sebuah tren, menyebarkan informasi, atau mengambil keputusan, ada baiknya kita bertanya, "Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah Allah meridai?"
Sahabat yang berbahagia,
Media sosial sering kali hanya menampilkan momen terbaik seseorang. Kita melihat senyumnya, tetapi tidak melihat perjuangannya. Kita melihat hasilnya, tetapi tidak melihat prosesnya.
Karena itu Allah juga berfirman:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ
"Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka." (QS. Thaha: 131)
Ayat ini mengajarkan bahwa hidup bukan perlombaan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain. Setiap orang memiliki waktu, rezeki, dan jalan hidup yang Allah tetapkan dengan penuh hikmah.
Lalu muncullah istilah lain, yaitu JOMO, Joy of Missing Out. Artinya, kita tetap bahagia walaupun tidak mengikuti semua yang sedang ramai.
JOMO bukan berarti anti pergaulan. Bukan berarti menolak perkembangan zaman. Tetapi kita belajar memilih. Memilih yang bermanfaat, meninggalkan yang tidak perlu.
Misalnya, ketika azan berkumandang, kita memilih memenuhi panggilan Allah daripada terus menggulir layar ponsel. Ketika teman mengajak pada sesuatu yang kurang baik, kita berani berkata, "Maaf, kali ini aku tidak ikut."
Pilihan-pilihan kecil seperti itu mungkin tidak terlihat hebat di mata manusia, tetapi sangat bernilai di sisi Allah.
Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Ternyata ketenangan bukan datang karena kita mengikuti semua tren, tetapi karena hati kita terhubung dengan Allah.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«"Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya."
(HR. Tirmidzi)»
Hadis ini terasa sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Tidak semua informasi harus dibaca. Tidak semua perdebatan harus diikuti. Tidak semua tren harus dicoba.
Sahabat yang dimuliakan Allah,
Mungkin yang kita perlukan bukan menjadi orang yang selalu paling tahu, tetapi menjadi orang yang paling tahu mana yang layak diikuti.
Bukan menjadi yang paling viral, tetapi menjadi yang paling bermanfaat.
Bukan menjadi yang paling ramai dibicarakan, tetapi menjadi pribadi yang diridai Allah.
Semoga Allah memberikan kepada kita hati yang tenang, pikiran yang jernih, dan keberanian untuk memilih jalan yang benar, meskipun tidak selalu menjadi jalan yang paling populer.
اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك، واجعلنا من عبادك الشاكرين، ولا تجعل الدنيا أكبر همنا، ولا مبلغ علمنا، واغفر لنا ولوالدينا ولجميع المسلمين. آمين.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.Naskah ini cocok disampaikan dalam waktu sekitar 6–8 menit dengan tempo bicara yang tenang dan diselingi jeda pada setiap ayat agar jamaah dapat merenungkannya.
Wallahu'alam (/oh)
Komentar