Muhasabah Diri dan Menyiapkan Bekal Akhirat

Muhasabah Diri dan Menyiapkan Bekal Akhirat

Pergantian tahun bukan sekadar perubahan angka dalam kalender. Bagi seorang Muslim, tahun baru adalah momentum muhasabah, saat yang tepat untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: sudah sejauh mana aku berjalan menuju Allah? Waktu terus berkurang, usia semakin bertambah, sementara bekal menuju akhirat sering kali belum sebanding dengan panjangnya perjalanan hidup.

Al-Qur’an mengingatkan agar setiap insan tidak lalai terhadap masa depan akhiratnya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).”
(QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini menegaskan bahwa iman sejati selalu diiringi evaluasi diri. Bukan hanya merasa cukup dengan amal hari ini, tetapi menimbang apakah amal itu benar-benar layak dibawa menghadap Allah.

Muhasabah: Menyadari Dosa dan Keterbatasan

Muhasabah bukan untuk membuat hati putus asa, melainkan agar kita jujur mengakui dosa. Setahun berlalu, betapa banyak kelalaian, ucapan yang menyakiti, ibadah yang ditunda, dan perintah Allah yang diremehkan. Kesadaran inilah yang melahirkan istighfar yang tulus.

Rasulullah saw meski beliau ma’shum, tetap memperbanyak istighfar:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Demi Allah, sungguh aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.”
(HR. Bukhari)

Jika Nabi saja terus memohon ampun, maka betapa kita lebih pantas untuk menundukkan hati, meneteskan penyesalan, dan membuka lembaran baru dengan taubat.

Orang yang Beruntung: Lebih Baik dari Hari Kemarin

Dalam Islam, keberuntungan bukan diukur dari materi atau popularitas, melainkan dari perbaikan diri yang berkelanjutan. Para ulama menukil sebuah kaidah hikmah yang sangat terkenal:

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُونٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُونٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُونٌ

Maknanya, orang yang hari ini lebih baik dari kemarin masih tergolong rugi jika tidak terus meningkat; yang sama saja lebih rugi; dan yang lebih buruk termasuk celaka. 

Intinya, iman menuntut pertumbuhan, bukan stagnasi.

Resolusi : Bekal Amal Shalih dan Ibadah

Resolusi tahun baru dalam Islam bukan sekadar target duniawi, tetapi niat memperbaiki hubungan dengan Allah. Amal shalih, meski kecil, jika istiqamah akan menjadi cahaya di akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Tahun ini bisa kita mulai dengan langkah sederhana:

menjaga shalat tepat waktu, memperbaiki niat bekerja, melapangkan sedekah, menahan lisan, dan memperbanyak dzikir. 

Inilah bekal yang akan menyertai kita saat semua gelar dan harta tertinggal.

Menyiapkan Bekal Menuju Akhirat

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah mengingatkan dengan kata-kata yang sangat dalam:

إِنَّ الدُّنْيَا قَدْ ارْتَحَلَتْ مُدْبِرَةً، وَإِنَّ الْآخِرَةَ قَدْ ارْتَحَلَتْ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا

“Dunia sedang pergi menjauh, dan akhirat sedang datang mendekat. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi anak-anak dunia.”

Kalimat ini menegaskan bahwa hidup adalah perjalanan, dan tahun demi tahun hanyalah penanda jarak menuju perjumpaan dengan Allah.

Tahun baru adalah undangan lembut dari Allah untuk kembali. Kembali menata niat, memperbaiki amal, dan memperbanyak istighfar. Jangan menunggu sempurna untuk berubah. Cukup mulai hari ini lebih baik dari kemarin, dan esok lebih baik dari hari ini. 

Semoga tahun ini menjadi tahun yang lebih dekat kepada Allah, lebih ringan dosa, dan lebih kaya dengan amal shalih. Aamiin.

wallahu'alam (/oh) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Macam-Macam Fawatihus Suwar dalam Al-Quran

Merancang Kebutuhan persyaratan alat untuk membangun server firewall

Panen "BUAH KEJUJURAN"