IBROH dari POHON KEJUJURAN DI BELAKANG RUMAH


IBROH dari POHON KEJUJURAN DI BELAKANG RUMAH

Pagi ini iseng main ke belakang rumah. Bukan mau mencari wangsit, apalagi mencari harta karun. 

Niatnya sederhana saja: memeriksa sekaligus memberi makan hewan-hewan kesayangan.

Ikan sudah diberi makan. Ayam sudah kenyang.
Beberapa ekor angsa juga sudah mendapatkan haknya. Setelah urusan per-hewan-an selesai, saya mendongak ke atas.

Mau melihat langit.
Ternyata… langitnya tidak kelihatan! Bukan karena mendung, tetapi karena terhalang pepohonan yang begitu rindang.

Ada pohon jati, durian, mangga, nangka, pete, pisang, dan entah masih ada berapa jenis lagi.

Di antara sekian banyak pohon itu, pandangan saya malah berhenti pada satu pohon.
Manggis.
Saya kemudian berpikir, ini pohon kalau diberi gelar sepertinya cocok juga:

POHON KEJUJURAN.” 

Kenapa?
Coba lihat buahnya.

Kulitnya bisa hijau.
Sudah matang berubah kecokelatan.
Kalau semakin tua, bisa terlihat gelap bahkan hampir hitam.

Tapi coba dibuka...
Isinya tetap putih.

Nah, di sinilah saya mulai curiga.
Jangan-jangan manggis ini lebih jujur daripada manusia. 

Kulitnya bilang apa adanya
Hijau, ya hijau.
Cokelat, ya cokelat.
Hitam, ya hitam.
Tidak pernah dia berkata:

Saya sebenarnya putih, lho…

Tidak!
Dia cukup diam.

Begitu dibelah, barulah ketahuan isinya.

Dan yang menarik, warna putihnya tidak pernah dipamerkan keluar.
Putihnya tetap di dalam.

Mungkin ini salah satu pelajaran kecil yang bisa kita ambil.

Kadang-kadang manusia justru sibuk memperlihatkan “kulit”.

Yang dipamerkan penampilan, jabatan, pencapaian, bahkan kebaikan.

Sementara soal “isi”, biarlah Allah yang tahu.

Manggis sepertinya santai saja.

Tidak pernah membuat status:

Alhamdulillah, hari ini saya masih putih di dalam.” hehe

Tidak pernah juga memotret dirinya lalu menulis:

“Tetaplah menjadi manggis: sederhana di luar, putih di dalam.”

Dia cuma tumbuh.
Berbuah.
Kemudian kita yang menikmati.
Diam-diam memberikan manfaat.

Dari sini saya jadi teringat satu hal sederhana:
Kejujuran itu bagian dari akhlakul karimah.
Jujur dalam perkataan.
Jujur dalam perbuatan.
Jujur ketika ada yang melihat.

Dan yang lebih penting, jujur ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Sebab kalau manusia tidak tahu, Allah tetap tahu.

Mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk terlihat baik di mata manusia.
Cukup berusaha agar isi hati kita benar-benar baik di hadapan Allah.

Seperti manggis.
Kulit boleh macam-macam.
Yang penting isinya.

Dan satu lagi yang menarik...
Buah manggis kalau sudah matang, tetap saja menggantung di pohonnya. Tidak pernah sombong sambil berkata:

Lihat saya! Saya sudah matang!” 

Barangkali memang begitu seharusnya manusia.

Semakin berisi, semakin rendah hati.
Semakin banyak kebaikan, semakin tidak perlu dipamerkan.

Pagi ini sebenarnya saya hanya berniat memberi makan ikan, ayam, dan angsa.

Eh, malah dapat “ceramah” dari pohon manggis.

Untung pohonnya tidak meminta honor. 
Maka, sambil memanen buah manggis, mari kita panen juga sedikit ibrah:

Jujurlah dalam perkataan.
Ikhlaslah dalam kebaikan.
Rendah hatilah dalam kehidupan.

Dan kalau belum mampu seperti manggis, setidaknya jangan sampai kulitnya manis, tapi isinya asem. 

Itulah renungan kecil pagi ini dari halaman belakang rumah.

"Kadang-kadang, Allah mengajarkan sesuatu bukan melalui mimbar, tetapi melalui sebatang pohon dan beberapa buah yang sedang menunggu dipanen."

Wallahu a'lam bish-shawab. /oh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUASA RAMADHAN, KITAB SAFINATUN NAJAH

Macam-Macam Fawatihus Suwar dalam Al-Quran

Nasihat ulama terkenal yang relate dengan kekinian